Mimpi pangkat dua

Kisah ini berlatar suatu sore yg begitu menggembirakan, karena ada saudara lama yang lama tak jumpa, hari ini bisa berkumpul dengan kami.

Namanya Mbak Las, adalah anak dari adik Ibuku, atau Bu Lik ku.

Waktu aku bangun tidur, kok ada Mbak Las, oalah udahh balik to. Pikirku.

Lalu, scene selanjutnya kami berkumpul di ruang TV dirumah Bu Lik ku yang lama. Kami menonton TV bersama, disitu ada aku dan Ibuku, tentunya dengan yang punya rumah, Bu Lik dan keluarganya.

Agak ramai, karena namanya ada yang baru balik kerja setelah sekian lamanya.

Tiba-tiba aku seperti mendengar ada orang memanggil namaku.

Setelah tak pikir-pikir, ah iya ini aku sedang berada dalam mimpi. Kan aku tadi sore balik kantor terus baring, mungkin aku terbawa tidur.

Benar saja, yang aku ceritakan tadi adalah mimpi.

Karena sekarang aku sedang dikos, dan tidak dirumah.

Suasana petang sangat terasa dikos, aku mulai membuka mata, dan ya, ternyata setelah aku bangun dan sedikit membuka pintu ada seorang simbah yang menunggu ku.

Rupanya dia ada keperluan denganku.

Aku minta ijin untuk sholat dulu, karena sepertinya aku belum sholat sebelum tidur tadi. Tapi nampaknya simbah buru-buru dengan urusan yang lain. Baik, kalau tak lama saya temui dulu.

Dengan muka yg nampak masam khas bangun tidur, sarungan, aku menuju keluar kamar. Kutemui simbah.

Setelah kami mengobrol, ternyata simbah ini ingin menanyakan perihal anaknya yang kuliah di kampus tempatku bekerja.

“Iki aku arep nakokke putuku kan arep yudisium tapi ono masalah dadi ora iso yudisium, terus kudu kepie sampeyan ngerti pora? “

Kami duduk di depan rumah kos-kosan, bersama dengan bapak dan ibu kosku, kemudian saya menjelaskan kalau saya tidak bisa membantu, sebaiknya cucunya segera menghubungi TU fakultasnya.

“Loh, jare iso”, jawabnya.

Kemudian aku jelaskan, meskipun aku memiliki kendali atas data karena pekerjaanku, bukan berarti aku berhak mengubah data semauku. Ada unit lain yang berhak untuk melakukannya. Aku sampai memberikan analogi,

“Mekaten Mbah, ibarat wonten tukang motong kuku gajah, menika misale diken motong kuku semut kan nggih mboten saget. Meskipun saget, gaman e benten, lan mboten gadah hak, tetep sekecane nggih kalih tukange kemawon”.

Setelah aku jelaskan, simbah mulai paham, dan dibantu juga oleh ibu kos yang kemudian mendetailkan pernyataanku.

Eh, tapi sebentar.

Kalau dipikir-pikir, ketika aku bangun tadi kamar kos ku tak seperti biasanya. Bahkan, halaman depan kosku juga tidak begini.

Allah, ternyata aku ini juga masih didalam mimpi (lagi).

Ketika aku sadar, aku lalu berusaha bangun. Dan benar saja, setelah aku melek, aku berada dikamarku yang biasanya.

Kugagapi handphone disekitar kasur, ah ketemu, kutengok jam, pukul 18.12.

Pantas saja sudah gelap.

Kuyakinkan diri sendiri kalau ini bukan didalam sebuah mimpi yang berada didalam mimpi lagi. Ah iya.

Sekarang aku mau pipis, sekalian wudhu, dan sholat maghrib. Mungkin tadi efek kelelahan sampai mimpi pun bertingkat.

Setelah sholat, aku akan tuliskan cerita didalam mimpi itu karena aku masih ingat betul detailnya seperti apa.

Lalu, sekarang ini, detik ini, tulisanya sudah menjelang paripurna. Kamu, pun telah selesai membacanya.

Begitulah ceritanya.