Tek…Tek…Tek…

Di suatu masa dimana hanya aku yang terjaga. Aku membuka mataku, kulirik kanan dan kiri, sepi, tak ada yang lain.

Tatapanku lalu kosong menengadah keatap yang gelap, berwarna hijau tua pekat atau mungkin lebih seperti darah para Orcs.

Sedetik dua detik aku masih tak bisa berpikir. Lalu, kemudian aku kembali menengok ke kanan kiriku. Masih kosong.

Dengan sedikit berat menopang diri sendiri, aku mencoba bangkit dan duduk bertumpu tanganku supaya tak limbung.

Aku masih belum paham, aku tiada mengerti.

Aku susuri sekeliling sejauh kemampuan mataku memandang, dari segala arah menuju segala arwh. Tiada yg luput dari pandanganku, namun tak aku jumpai apapun, selain kosong dan hening.

Aku kemudian berdiri dengan sisa tenaga yang aku miliki, lalu berjalan entah menuju arah yang mana.

Aku hanya ingin mencari pintu keluar, atau ujung dari keheningan ini. Aku ingin menemui suara yang lain, entah itu tangismu atau pun tawamu, aku seperti ingin berada disitu.

“tek… tek…tek…”

Suara yang tak asing. Aku cari dari mana arahnya berasal. Masih tak kujumpai. Kususuri lagi, masih tak aku temui.

Lalu ada yang menepuk kakiku dari belakang. Aku terkaget langsung membalikkan badan. Tak kusangka, siapa kah makhluk kecil ini.

Tinggi sekitar sepaha, dengan kaki dan tangan, dan tubuh serta kepalanya adalah perwujudan dari jam klasik rumahan.

“Siapa engkau?”, tentunya siapapun akan menanyakan perihal yang sama seperti yang aku lakukan.

Lalu dia menjawab,

“Aku adalah waktu dimana kau tak sempat memperhitungkannya. Aku adalah waktu dimana sehari-harimu aku telah dilupa. Aku adalah waktu dimana ini sudah hampir tiba masanya. Bergeraklah atas nama Tuhanmu, meski dengan kaki yang tertatih atau bahkan merangkak diaspal yang terik”.

“Aku tak paham, apa maksudmu? “, semakin aku kebingungan dibuatnya.

“Kau kan mengerti”, pungkasnya.

Seketika aku seperti di tembak dengan lampu tepat dimata, silau dan tak nampak apapun.

Lalu aku dijatuhkan kembali ke kasur kamar kos, dan aku baru mengerti apa maksudnya.