Perjuangan itu belum selesai

Posted on

Setiap kali kita menyelesaikan sebuah misi, selalu saja ada misi selanjutnya yang harus dikerjakan. Misi itu tidak akan pernah berakhir, sebelum kita meninggalkan kehidupan di dunia. Begitu pun perihal pendidikan.

Mungkin tempo hari aku sudah melangsungkan resepsi wisuda, dan telah sah menjadi seorang sarjana muda. Namun, diatas kekurangan-kekurangan yang aku miliki, masih ada getaran yang sangat kuat, yang membuat aku ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Perjuangan itu belumlah usai. Ketika aku merasakan cahaya begitu jauh, kemungkinan itu sangat kecil, aku harus sigap dan mengingat perjuanganku yang telah lalu. Allah tidak melihat kita sebatas kepada hasil, namun juga kepada apa yang telah kita perbuat dan apa yang kita lakukan untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita.

Dulu, aku juga merasakan hal yang sama seblum masuk di bangku kuliah. Keterbatasan-keterbatasan yang aku miliki, seolah menahan aku untuk maju dan melangkah. Akan tetapi, meski samar cahaya itu ada, peluang itu ada bersama kemungkinan-kemungkinan yang boleh jadi menjadi jalan bagi kita.

Mungkin cahaya itu samar, hanya karena terlalu jauh, atau terhalang mungkin? Ketika cahaya itu jauh, berarti harus kita dekati agar kita dapat melihat dengan jelas dan menjadikannya penerang langkah kita. Ketika terhalang, mungkin kita perlu berakselerasi agar tak putus asa dalam menemukannya.

Meski serasa tak mungkin, kini akhrinya aku juga sudah tamat menempuh jenjang S1. Bukankah 4 tahun lalu sama juga seperti sekarang? Ya, memang begitulah.

Beberapa minggu yang lalu aku sempat kalut. Dan merana, ah tak kuat membayangkan keinginan yang begitu kuat, namun terhalang batu besar. Cahaya itu suram, tenggelam dibalik lihai syetan pemutus asa. Wait, tapi setelah beberapa hari ini aku dekati, aku coba sentuh dengan mesra, sepertinya aku mendapat senyuman balasan. Pertanda baik. Bismillah, semakin kuat saja tekad ini.

Demi menuju kepada Rabb-ku, demi orang-orang terkasih, aku tidak akan mundur, dan semangatku akan terus membara. Membakar emosi yang seharusnya meletup perihal cinta, aku pending dulu sudah. Wkwkwk. Sabar cin, ada waktunya aku menggandrungimu, kini bantulah aku dalam do’a, agar nanti ketika menjemputmu, aku sudah verified dan membuat yakin orang tuamu.

Bismillah, Semangat!