Penjajakan Belajar Membaca Al-Qur’an Tartil di AMM Kotagede Jogja

Posted on

Bismillah…

Hari ini jadi hari pertama saya mengikuti kelas pembelajaran membaca Al-Qur’an di AMM Jogja. Wah, sebenarnya sudah berencana sejak lama untuk mengikuti kelas disini, namun karena waktu dan beberapa hal lain yang menjadi kendala jadi menunda niatan itu. Tak apa, ghiroh untuk tetap belajar dan membenahi bacaan tetap terus ada dan menggelora 😀

Minggu lalu saya mendaftar kelas tartil di AMM, biayanya 160 untuk kelas 20 kali pertemuan, dengan jam pagi 6.00 sampai 7.30, dan sore 16.00 sampai 17.30. Kita bisa memilih ingin ikut jam pagi atau sore, intinya 20 kali pertemuan. Boleh untuk tidak berangkat, artinya bukan rutin harus berangkat, jumlah keberangkatan akan diakumulasikan sampai 20, dan maksimal adalah 2 bulan harus habis.

Meski sejak minggu lalu mendaftar, baru minggun ini sempat untuk memulai. Bukan tak ingin menyempatkan, hanya saja minggu kemarin benar-benar dikejar deadline untuk project yang harus segera selesai. Sampai waktu tidur pun digunakan untuk mengerjakan, karena itu belajar di AMM nya sempet tertunda jadinya. InsyaAllah, mulai hari ini istiqomah 🙂

Nama beliau Muhammad Mujib, yaa saya memanggilnya Ustadz Mujib. Beliau yang pagi ini membimbing saya. Karena baru pertama kali saya belajar, sehingga istilahnya penjajakan, untuk mengetahui sudah sampai mana tingkat kemampuan bacaan saya, biar nanti Ustadz Mujib bisa membenahi mana yang kurang dan meningkatkan kualitas bacaan saya.

Pertama saya diminta membaca Al Fatihah, kemudian setelah itu dibukakan Buku Iqra’. Saya di tes di beberapa lembar, dan di beberapa halaman berbeda dari beberapa jilid yang berbeda. Ujar beliau,

“Mengajinya sudah bagus sebenarnya, cuma ada beberapa dengung yang belum tampak, dan masih tergesa-gesa.”,

mungkin itu simpul dari apa yang beliau sampaikan tadi.

Karena itu, diputuskanlah saya memulai belajar dari Iqra Jilid 5, halaman 21 untuk besok. Karena pada halaman itu, pembelajaran tajwid mim bertemu ba berada. Karena tadi sewaktu di tes, memang disitu kurang dengungnya, saya ingat cuma pas baca masih sering khilaf dan lupa.

Terkait tergesa-gesa, hehe memang iya eh, belum bisa syahdu, maka dari itu, semoga di AMM ini bisa menigkatkan kualitas bacaan saya. Kemudian ke tahfidz, dan murotal aamiin insyaAllah.

Sebelumnya memang saya pernah belajar membaca Al-Quran di kampus dan dari teman-teman saya. Dulu, memang sewaktu dikampung ndak tamat di TPA karena ketika lulus SD saya masih iqra 5, jadi malu untuk melanjutkan TPA karena sudah SMP, sedangkan lainnya anak-anak mungil, hmmm begitulah khilaf saya dulu. SMP sampai SMK bener-bener paling takut kalau di suruh baca Al-Qur’an dikelas, malu karena masih macet-mace, kalau disuruh selalu saja menghindar.

Alhamdulillah, kuliah di Universitas Ahmad Dahlan menghadirkan banyak keberkahan dalam kehidupan saya. Sebagai salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah, UAD selalu menyelenggarakan pendidikan agama yang bagus untuk mahasiswa, dan selalu menghadirkan nuansa keislaman di lingkungan kampus. Benar saja, di UAD disediakan guru tahsin gratis, yang kita tinggl datang. Semua itu karena di UAD untuk dapat KKN dan yudisium diharuskan dapat membaca Al-Qur’an dengan nilai minimal B. Sehingga, alumni UAD memang patut diperhitungkan untuk menjadi mantu, #eh 😀

Di sisi lain, teman-teman saya banyak sekali yang pandai dalam membaca Al-Qur’an, terimakasih banyak Mbak Arsy, Hasan, dan teman-teman yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, yang kalian sangat berperan dalam meningkatkan kualitas bacaan ini, semoga Allah melapangkan rejeki kalian di dunia, dan kelak menempatkan kalian di Syurga Nya, aamiin.

Mungkin sekian dulu saja untuk kali ini, mohon do’anya saja, semoga dapat istiqomah dalam belajar, sehingga anak-anak saya nanti dapat terlahir dari keturunan seorang hafidz aamiin, insyaAllah.

Sutriman