Cara jitu penulis pemula publish paper tembus Scopus ditulisan pertama

Scopus sudah menjadi seperti parameter sebuah tulisan dianggap sebagai tulisan yang berbobot bagi para akademisi di negeri ini. Scopus yang merupakan pangakalan data penelitian ini seolah menjadi primadona, sehingga para akademisi dan perguruan tinggi berlomba-lomba untuk meningkatkan jumlah publikasinya di Scopus. Apakah susah menulis jurnal agar terindex Scopus? Bagaimana kalau kita masih awam?

Saya sendiri masih awam di dunia tulisan ilmiah, but wait, bukan berarti Anda tidak boleh mendengarkan saran saya kan? Sebagai seorang yang awam dalam dunia tulis-menulis, kemarin tulisan pertama saya terpublish di salah satu jurnal terindex Scopus pada November 2019. Kok bisa?

Kalau kita masih pemula juga dalam menggandrungi Scopus, mungkin kita sama, dalam artian kita sama-sama baru dalam menulis. Dengan demikian mungkin saran dari saya nantinya akan lebih mudah dipahami daripada saran dari para ahli yang tulisannya sudah bejibun di Scopus. Kenapa? Karena kita memiliki kesamaan. Disitu perbedaanya.

Scopus Homepage (Scopus.com)

Lalu apa saja yang perlu diketahui untuk memperbesar kemungkinan tulisan kita diterima di jurnal terindex Scopus? Berikut akan saya rangkum dalam beberapa poin, berdasarkan pengalaman saya dan masukan dari senior-senior yang saya simpulkan dengan lebih sederhana.

1. Perkuat kedalaman konten, dan sumbangsih dalam penelitian

Ini penting untuk kita pikirkan diawal, kenapa? Karena kedalaman terkait topik yang akan kita bahas dan teliti itu nanti bergantung terhadap keseluruhan naskah yang akan kita buat.

Ketika kita membuat terlalu dangkal, mungkin bisa masuk pada kasus-kasus tertentu, tapi dalam Q yang rendah. Ini saya juga masih mempelajari, karena terkadang konten menurut kita dangkal ternyata dalam dan sebaliknya.

Terkait kedalaman konten, kita perlu konsultasi dengan dosen pembimbing atau teman-teman kita yang lebih dulu menulis.

Selain itu, kita juga bisa membaca paper pada jurnal-jurnal terbaru (yang bereputasi) yang sesuai bidang kita, untuk melihat tren yang sedang naik daun, dan juga melihat tren penelitian yang masih banyak digeluti. Banyak penelitian yang membahas, berarti banyak masalah yang ada.

Tidak ada ruginya membaca paper, karena selain mendapatkan pengetahuan baru kita juga bisa mendapatkan referensi.

2. Perbanyak referensi/sitasi dari penelitian terbaru sebelumnya

Fungsi lain dari memperbanyak membaca paper yang serumpun adalah memungkinkan untuk menambah literatur yang kita miliki. Dengan demikian, kita suda memiliki bahan untuk dijadikan referensi sekaligus menambah jumlah sitasi pada naskah paper kita.

Bukan sekedar banyak, usahakan paper yang dirujuk juga paper-paper yang masih fresh alias baru. Kurang lebih bisa kita cari paper-paper 5 tahun terakhir.

Jumlah sitasi yang disertakan mungkin setiap jurnal berbeda, untuk jurnal yang kemarin saya ikuti, mensyaratkan paling tidak ada 21 sitasi (logika saya, semakin banyak berarti semakin bagus).

Hal tersebut saya ketahui setelah saya mendapatkan masukan dari reviewer tentunya.

3. Diperjelas latar belakang masalah yang ada yang membuat penelitian bernilai

Ini harusnya saya tulis di poin ke dua kali ya. Tapi tak apa, intinya yang penting bisa dipahami. Melanjutkan dari poin pertama, karena ada kaitannya.

Kedalaman konten tentu sangat berhubungan dengan masalah yang ada dan benefit yang didapatkan dari penelitian. Semakin signifikan benefit dari penelitian, berarti konten tersebut semakin dalam. Iya bukan? Sederhananya mungkin begitu.

Cuma kadang-kadang orang tidak bisa memahami apa mau kita, seberapa penting penelitian kita, dan sebesar apa masalah yang timbul karena kita kurang kuat dalam mengutarakan.

Dalam mengutarakan maksud dalam paper, kita harus bisa menyertakan data dan fakta dari sumber-sumber yang terpercaya, dengan runtutan yang jelas, mudah dipahami, dan tegas sehingga membuat reviewer akan memiliki pikiran yang sama seperti kita. Yaitu pikiran bahwa penelitian kita ini penting dan dibutuhkan.

4. Gunakan Bahasa Inggris yang bagus

Ini penting untuk jurnal internasional. Mau tidak mau memang kita harus mengerti biarpun sedikit soal Bahasa Inggris. Kenapa? Bahkan sebelum kita memulai membahas menulis, referensi bahan bacaan yang bagus juga banyak bertuliskan bahasa Inggris.

Tak usah khawatir, banyak tools online yang bisa kita gunakan untuk membaca referensi jika memang dibutuhkan. Seperti Google Translate misalnya, atau Translate.com. Meskipun kita perlu menerka-nerka maksudnya, karena kadang-kadang terjemahan mesin itu suka absurd dan wagu.

Kita juga perlu mengasah kemampuan bahasa Inggris kita. Dalam jangka panjang, hal ini akan sangat membantu kita dalam berbagai hal. Dalam membaca, jadi ga wasting time karena sedikit-sedikit buka translator atau kamus hehe.

Kalo soal menulis, apalagi soal tulisan yang akan kita publikasikan di Scopus jangan ragu untuk menggunakan jasa translator.

Translator lebih ahli dalam bidang tulis menulis. Meskipun ada Google Translate, seperti yang saya bilang tadi kalau translate dengan mesin itu gajelas banget.

Gaya bahasa ke-indonesia-an kita bakalan nampak, padahal dalam bahasa Inggris ada beberapa mungkin kosakata yang tidak bisa diartikan secara terpisah.

Impact yang paling kerasa kalau kita menggunakan jasa translator adalah biayanya. Saya mengakali dengan menggunakan jasa proofing dibanding translate dari awal.

Karena saya ada pengetahuan sedikit mengenai Bahasa Inggris, meskipun gajelas juga sih, tapi paling tidak bisa menyusun lah kalimat-kalimat sedikit.

Setelah itu, naskah baru saya kirim ke translator untuk dicek, sudah bener belum nulisnya dan diperbaiki bila memang ada kesalahan.

5. Berikan tambahan grafik, tabel atau gambar pendukung yang menarik tapi tidak usah lebay

Jangan buat reviewer bosan melihat naskah kita yang isinya cuma tulisan. Kita bisa menambahkan grafik, tabel atau gambar supaya paper lebih informatif.

Fungsi dari grafik, tabel dan gambar adalah untuk membuat konten lebih menarik dan informatif, sehingga jangan berlebihan dalam memberikan item ini. Karena jika berlebihan, malahan akan terkesan aneh. Banyak boleh tapi tidak kebanyakan, intinya kita bisa melihat persentasi perbandingan kontennya, kita lihat secara keseluruhan.

Jangan publish paper tanpa item tambahan ini, apalagi naskahnya cuma tulisan tok. Bosen bacanya.

Mungkin itu saja dulu beberapa tips yang bisa saya bagikan dikesempatkaan kali ini. Lain waktu, semoga ada kesempatan untuk berbagi. Tetap semangat untuk berbenah diri, semoga hari besok lebih baik dari hari ini.