Belajar Foto Forensik

Pada postingan kali ini kita akan sedikit mempelajari dan mencoba untuk melakukan forensik digital, lebih tepatnya forensik terhadap sebuah foto. Foto Forensik adalah foto yang memvisualisasikan sebuah objek, adegan, dan peristiwa sebagai bukti guna digunakan dalam suatu proses hukum.

Fotografi Forensik ini bisa digunakan secara spesifik untuk dokumentasi, analisis, intelejen, atau untuk presentasi suatu kejadian di pengadilan. Munkgin kelihatannya sederhana namun nyatanya menguji keaslian foto dan video itu tidak mudah.

Salah satu penyebab utama yang membuat foto forensik menjadi pekerjaan yang sulit adalah kebiasaan buruk orang-orang masa kini yang sering menggunggah dan membagikan foto di media sosial sehingga menghilangkan keaslian foto.

Setiap kali kita membagikan foto melalui media sosial (apapun itu) biasanya foto akan di kompresi sedemikian rupa sehingga foto kehilangan keorisinilannya.

Tujuan dilakukannya foto forensik adalah agar dapat diketahui sebuah foto apakah asli, originial dan dapat dibuktikan keotentikannya atau tidak, sehingga dapat digunakan sebagai barang bukti dalam perkara hukum.

Pada postingan ini kita akan sedikit membuat kasus sederhana dan mencoba mengaplikasikan foto forensik dengan tools-tools online yang sudah banyak tersedia.

Simulasi Foto Forensik: Contoh Kasus

Kita sediakan 3 foto yang sama, tetapi ada perbedaan mendasar. Foto yang digunakan adalah foto bukti pembayaran. Manipulasi yang dibuat pada salah satu foto memang terlihat jelas di mata. Namun, kali ini kita akan membuktikan sesuai fakta tidak sekedar konten. Dalam artian, foto forensik yang dilakukan adalah tidak sekedar pengamatan mata, namun berdasarkan informasi yang kita dapatkan dari mengolah foto-foto tersebut.

  1. Foto pertama, foto asli diambil menggunakan kamera HP.
  2. Foto kedua, foto sudah di edit menggunakan editor bawaan HP Xiamo Redmi 5.
  3. Foto ketiga, foto sudah diedit, dan dikirimkan melalui Telegram dengan kompresi.

Foto Pertama

Foto Kedua

Foto Ketiga

Forensik terhadap Foto

Dalam melakukan foto forensik, terdapat banyak parameter yang mungkin bisa kita gunakan. Dalam kasus ini, kita akan mencoba menggunakan beberapa parameter yaitu size, meta data/ exif, ELA (Error Level Analysis), JPEG %, dan Hash.

Melakukan forensik foto dengan membandingkan ukuran/ Size

Sebenarnya size tidak menjadi acuan, namun sekilas mata memandang, kita dapat melihat perbedaan diantara ketiga foto tersebut.

Nampak jika size dari ketiga foto berda, informasi telah berubah setelah ada modifikasi dan terlebih setelah dilakukan pengiriman menggunakan sosial media.

Melakukan forensik foto dengan melihat meta data/ EXIF

Setiap foto memiliki informasi yang tersimpan didalamnya. Foto tersebut diambil menggunakan kamera apa, kapan, resolusi berapa dan sebagainya. Menggunakan metadata sebenarnya hanya sebagai bantuan saja. Karena metadata sifatnya dapat dimanipulasi menggunakan beberapa software.

Selain itu, metadata menjadi tidak bisa digunakan ketika foto yang diujikan adalah foto yang sudah tersebar dimedia sosial. Setiap media sosial memiliki kompresi sendiri, dan hal tersebut juga mengubah nilai dari metadatanya sehingga akan sulit menilai validitas sebuah foto hanya berdasar metadata. Alih-alih mengabaikannya, andaikata foto tersebut adalah foto asli yang benar-benar masih asli, metadata dapat digunakan sebagai tambahan informasi. Berikut metadata dari setiap foto yang dilihat menggunakan situs online fotoforensic.com

Hasil meta data dari setiap foto adalah sebagai berikut:

Dari foto hasil diatas, bisa dilihat foto pertama memiliki informasi asli dari sebuah foto. Jika misalnya foto tersebut dimanipulasi menggunakan Photoshop, biasanya ada informasi telah diubah menggunakan software tersebut. Yang menjadi informasi lain buat kita adalah pada foto kedua telah di edit menggunakan editor bawaan HP Redmi 5A, namun dia tidak kehilangan metadata aslinya.

Foto ketiga kehilangan informasinya karena dikirimkan menggunakan Telegram sebagai foto (dengan kompresi) tidak sebagai sebuah file. Bisa dibayangkan, bagaimana informasi dari foto yang sering viral dan diperdebatkan tentu dia sudah kehilangan nilainya.

Melakukan forensik foto dengan melihat Error Level Analysisnya (ELA)

Error Level Analysis (ELA), adalah sebuah cara untuk mengetahui adanya modifikasi atau tidak pada sebuah image. Khususnya untuk imagfe beraketsi JPEG,  maka seluruh bagian dari image seharusnya memiliki nilai kompresi yang same. Bila ditemukan bagian dari image dengan perbedaan ELA yang sangat significant maka dapat diduga adanya upaya modifikasi pada bagian tersebut.

Hasil foto forensik menggunakan teknik ELA adalah sebagai berikut:

Dari ketiga gambar diatas, dapat kita lihat bahwa foto pertama memiliki kompresi yang rata dan beraturan. Menandkan foto tersebut dapat dikatakan asli dengan teknik ELA. Sementara foto kedua dan ketiga nampak ada manipulasi dilihat dari kompresi yang cacat disana-sini. Terlebih di foto ketiga, kompresi pecah dan kehilangan kejelasan karena kompresi dengan sosial media yang mengaburkannya.

Dengan menggunakan JPEG%

Dengan melihat nilai HASH atau checksum nya

Setiap foto dapat kita pastikan identik dengan membandingkan nilai hash yang dihasilkan. Jika kita memiliki data foto asli sebagai pembanding, dan ada foto lain yang dijadikan sebagai barang bukti, maka kita dapat mencocokan nilai hash dari kedua foto tersebut. Jika foto identik, maka akan memiliki nilai hash yang sama. Hal ini juga dapat digunakan ketika meng-copy barang bukti, untuk memastikan barang bukti telah dicopy seacara sempurna. Berikut nilai hash dari ketiga foto yang dijadikan contoh:

Mungkin untuk sementara postingan ini sampai disini, sebenarnya ada banyak cara dengan beragam tools yang dapat kita gunakan. Pada postingan ini, hanyalah salah satu contoh sederhana yang dapat kita lakukan untuk melakukan foto forensik dengan bantuan salah satu tools online.

Sebenarnya kalau bicara jaman sekarang, keahlian ini tidak melulu hanya perlu diketahui oleh penggiat IT. Masyarakat secara umum mungkin perlu tau juga, seiring berkembangnya hoax yang sering membuat gaduh. Paling tidak, kita bisa lebih bijak sebelum membagikan sebuah foto dengan mengeceknya terlebih dahulu.

Oh ya, saya mohon maaf foto-foto yang saya lampirkan tidak saya embed tapi saya sediakan untuk bisa diunduh. Harapannya supaya contoh yang saya berikan tidak rusak ketika saya tampilkan disini. Semoga dapat memberikan manfaat.