histats

Bagaimana jika nikmat itu dihilangkan?

Seringkali kita mengeluh, kita merasa terpojok dengan keadaan dan serasa hidup ini begitu hambar. Kita merasa seperti hanya kita yang tinggal di bumi ini, dan merasakan kesakitan-kesakitan, sementara orang lain hanyalah figuran sebagai pelengkap kisah. Kita lupa untuk bersyukur, dengan kenikmatan-kenikmatan yang Allah berikan, yang tanpa dirasa telah menopang kita untuk tetap dapat berdiri dan melangkah.

Bagaimana jika nikmat-nikmat yang telah Allah berikan sedari dulu itu dihilangkan? Pernahkah kita berpikir demikian?

Semalam saya pergi ke tukang pijit, di daerah ringroad selatan. Selain mendapat pijatan di badan, ternyata juga terasa sampai hati ketika pulang dari tempat itu. Panti Pijat Tuna Netra. Ya, semua terapist-nya adalah penyandang tuna netra. Kebetulan yang semalam adalah Pak Gandung (nama disamarkan). Terenyuh rasanya, mendapati bagaimana Pak Gimin menyiapkan tempat, dan bercerita tentang ini itu.

Saya memang mengawali pembicaraan tentang bagaimana menjalani hidup dengan kondisinya yang seperti itu. “Yaa mau bagaimana lagi, kalau sudah kepepet nanti nak terbiasa”, ujar beliau. Setelah pembicaraan yang lumayan lama, kembali saya menanyakan tentang kapan mulai menjadi seorang tuna netra. Beliau pun bercerita tentang bagaimana penglihatannya hilang sejak kurang lebih 10 tahun lalu. Dulu, beliau juga sama seperti kita, dapat melihat dan merasakan bagaimana indahnya dunia ini. Namun, karena terperdaya dengan minuman keras, dan terlalu banyak mengkonsumsinya, alhasil Allah mengambil nikmat untuk dapat melihat dari beliau. Hal ini tidak hanya menjadi pelajaran untuk beliau, akan tetapi juga untuk kita semua.

Di tempat ini ada dua hunian yang digunakan untuk praktik pijat. Ada 7 terapist yang semua nya adalah tuna netra, 2 perempuan dan lainya laki-laki. Dulu, saya pernah juga kesini, waktu itu saya dipijat oleh Mas Suryanto (nama disamarkan). Sama halnya dengan Pak Gandung, saya juga banyak bercerita ngalor ngidul dengan Mas Suryanto termasuk perihal awal mula kisahnya menjadi seorang tuna netra.

Mas Suryanto ini terbilang belum terlalu tua, mungkin masih sekitar 28an tahun usianya. Beliau memiliki seorang istri dan anak, namun semenjak nikmat penglihatannya dihilangkan oleh Allah, istri dan anak beliau pun turut serta pergi meninggalkan beliau, dan pulang ke kampung asalnya. Betapa sedih emosi tertahan sewaktu beliau bercerita waktu itu.

Disela-sela pijatan Pak Gandung, terdengar suara seseorang sedang memasak. Aku pun bertanya, siapa itu Pak? Ternyata itu adalah salah satu dari terapist. Antara heran dan kaget, apa mungkin? Namun, benar adanya. ternyata untuk makanan mereka tidak membeli namun memasak sendiri. Bayangkan, kita berjalan dengan mata terpejam saja betapa sulitnya, ini memasak! Beradu dengan api dan minyak panas, dengan pisau dan hal-hal yang diluar kemampuan kita. MasyaAllah…

Betapa kita telah lalai dengan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan selama ini. Dengan kelebihan dan keindahan kehidupan kita, kita masih sering merasa kalau kita adalah orang paling nelangsa di dunia. Seolah tidak ada yang bisa merasakan betapa pedihnya menjadi kita. Padahal, kita masih jauh jauh jauh lebih beruntung dibanding mereka yang bahkan untuk melihat dunianya saja tidak mampu!

Fa bi ayyi ālā’i Rabbikumā tukażżibān…. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Besyukur, dan jalani hidup ini dengan penuh sukacita. Kita tidak pernah tau, kapan Allah akan menghentikan nikmat yang Dia berikan kepada kita, dan nikmat yang mana yang akan dia hilangkan. Setidaknya, syukuri dan nikmati keberadaannya. Jangan sampai kita lalai, dan kufur akan nikmat yang telah Dia berikan.

 

Yogyakarta, 26 Oktober 2016